INDAHNYA HIDUPKU DENGAN MENJAGA TOLERANSI DAN ETIKA DALAM PERGAULAN
BAB IV
INDAHNYA
HIDUPKU DENGAN MENJAGA TOLERANSI DAN ETIKA DALAM PERGAULAN
A. QS.
al-Kāfirūn [109] ayat 1-6
1.
Terjemah
ayat
Katakanlah (Muhammad), ”Wahai
orang-orang kafir!. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu
bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku
sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS. al-Kāfirūn [109]: 1-6).
2.
Penjelasan
Surat al-Kāfirūn diturunkan secara keseluruhan untuk
menjawab ajakan tokoh-tokoh kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad. Mereka antara
lain: al-Walı̄d bin al-Mugı̄rah, al-‘Αṣ bin Wā’il as-Sahmı̄, al-Aswad bin Abdul
Muṭalib, dan Umaiyyah bin Khalaf. Mereka mengatakan: “Hai Muhammad, marilah
engkau mengikuti agama kami, dan kami akan mengikuti agamamu. Kami juga akan
senantiasa mengajakmu dalam segala kegiatan kami. Kamu menyembah Tuhan kami
selama setahun, dan kami menyembah Tuhanmu selama setahun juga. Jika ternyata
yang engkau bawa lebih baik, maka kami akan mengikutimu dan melibatkan diri
didalamnya. Dan bila ternyata yang ada pada kami itu lebih baik, maka engkau
mengikuti kami dan engkau pun melibatkan diri didalam agama kami. Nabi
menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menyekutukan-Nya dengan
selain-Nya”. Kemudian Allah menurunkan surat ini sebagai balasan atas ajakan
mereka.
Kemudian Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam
berangkat menuju Masjidil Haram yang saat itu sedang berkumpul para pembesar
Quraisy. Nabi berdiri di hadapan mereka membacakan surah al-Kāfirūn ini.
Sehingga mereka berupaya merubah siasat dengan melakukan penindasan dan
penyiksaan terhadap nabi dan para pengikutnya hingga nabi melakukan hijrah ke
Medinah.
Dalam Surah al-Kāϐirūn ayat 1–2 secara tegas dinyatakan
bahwa Tuhan yang disembah Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam dan para
pengikutnya bukan apa yang disembah
orang-orang kaϐir, karena mereka menyembah Tuhan yang memerlukan pembantu dan
mempunyai anak. Sedang Nabi menyembah Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak dan istri. Dalam ayat 3, Allah menambahkan lagi pernyataan
yang diperintahkan untuk disampaikan kepada orang-orang kaϐir dengan menyatakan
bahwa mereka tidak menyembah Tuhan yang didakwahkan Nabi Muhammad, karena
sifat-sifat-Nya berlainan dengan sifat-sifat Tuhan yang mereka sembah dan tidak
mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut.
Pada ayat 4-5 ditegaskan bahwa Nabi Muhammad ṣallāllāhu
ʻalaihi wasallam memiliki konsistensi dalam pengabdiannya. Artinya apa yang
beliau sembah tidak akan berubah-ubah. Cara ibadah kaum muslimin berdasarkan
petunjuk Allah, sedangkan cara orang kaϐir berdasarkan hawa nafsu. Melalui
surah ini, Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam ingin mengajarkan bahwa
sebagai orang yang beriman, kita hendaknya mempunyai kepribadian yang teguh dan
kuat yang tidak tergoyahkan oleh apapun.
Pada ayat 6 dinyatakan adanya pengakuan eksistensi
secara timbal balik, yaitu untukmu agamamu dan untukku agamaku. Dengan demikian
masing-masing dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik, tanpa
memaksakan pendapat kepada orang lain dan sekaligus tidak mengabaikan keyakinan
masing-masing.
B. QS.
QS. Yūnus [10]: 40-41
1.
Terjemah
ayat
Dan di antara mereka ada orang-orang
yang beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang
yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang
orang-orang yang berbuat kerusakan (QS.
Yūnus [10]: 40).
Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu
(Muhammad), maka katakanlah, ”Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu
terbebas dari apa yang aku kerjakan dan aku pun terbebas dari apa yang kamu
kerjakan” (QS. Yūnus [10]:
41).
2.
Penjelasan
Pada ayat 40, Allah menegaskan bahwa umat Nabi
Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam terbagi menjadi dua kelompok dalam
mengimani Nabi Muhammad sebagai Rasul dan wahyu al-Qur’an yang diterimanya.
Sebagian menerima Al-Qur’an, mengikuti ajaran Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi
wasallam dan mengambil manfaat dari risalah yang dibawanya, sebagian lagi mereka
tidak beriman selalu mendustakan Nabi Muhammad. Dan Allah lebih tahu tentang
orang-orang yang membawa kerusakan di muka bumi dengan kemusyrikan, kezaliman
dan kedurhakaan karena mereka tidak mempunyai kesiapan untuk beriman.
Ayat ke 41, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad
ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam untuk tegar dalam menghadapi orang-orang yang ingkar
akan ajaran yang dibawanya. Beliau diperintahkan untuk menyatakan bahwa beliau
tidak bertanggungjawab atas perbuatan mereka, dan merekapun tidak
bertanggungjawab terhadap perbuatan beliau. Dengan kata lain “Bagiku
pekerjaanku, bagimu pekerjaanmu”. Segala perbuatan sekecil apapun pasti ada
balasannya. Amal baik akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya amal buruk
akan mendapatkan keburukan pula.
Yang dimaksud amalku (perbuatanku) adalah Nabi akan
terus berdakwah, menyeru kepada kebaikan mengajarkan taat kepada Allah, memberi
kabar gembira kepada yang beriman, dan ancaman bagi orang-orang yang
mendustakannya. Hasil dari amal beliaupun tidak ada kaitannya dengan
orang-orang kaϐir. Sedangkan yang dimaksud amalmu (perbuatanmu) adalah
orang-orang kaϐir diberi kebebasan untuk terus menerus mendustakan agama, tetap
dalam kekufuran dan syirik, zalim ataupun berbuat kerusakan. Semua amal
perbuatannya tidak ada kaitannya dengan amalan Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi
wasallam.
C. QS.
al-Kahfi [18]: 29
1.
Terjemah
Ayat
Dan katakanlah (Muhammad), ”Kebenaran
itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia
beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya
Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung
mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti
besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk
dan tempat istirahat yang paling jelek (QS. al-Kahfi [18]: 29).
2.
Penjelasan
Ayat ini menegaskan kepada semua manusia termasuk
kaum musyrikin yang angkuh bahwa kebenaran yang disampaikan kepada mereka itu
berasal dari Allah, Tuhan semesta alam. Kewajiban mereka adalah mengikuti
kebenaran itu dan mengamalkannya. Barang siapa yang mau beriman kepada-Nya dan
masuk ke dalam barisan orang-orang yang beriman maka hendaklah ia beriman.
Sebab manfaat dan keuntungan dari keimanan itu akan kembali pada dirinya
sendiri. Juga demikian halnya bagi siapa yang ingkar atau kaϐir maka biarlah ia
kafir, walau kaya dan jabatannya tinggi, Allah dan Nabi Muhhammad tidak
mengalami kerugian sedikipun.
Ayat tersebut juga menerangkan kerugian dan
kecelakaan akibat penganiayaan diri mereka. Allah memberikan ancaman yang keras
kepada mereka, yaitu akan melemparkan mereka ke dalam neraka. Gejolak neraka
mengepung mereka sehingga mereka tidak bisa keluar dan menghindar dari api, dan
terpaksa menjalani siksaan. Jika mereka minta pertolongan dari ganasnya api
neraka, mereka akan diberi minum dengan air seperti cairan besi atau minyak yang
keruh yang mendidih dan tentu akan menghanguskan badan mereka. Dan itulah
seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang buruk.
D. QS.
al-Ḥujurāt [49]: 10-13
1.
Terjemah
Ayat
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan
bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (QS. al-Ḥujurāt [49]: 10)
Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan
pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi
perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang
mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah
saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. al-Ḥujurāt [49]: 11)
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah
banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah
kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang
menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang (QS. al-Ḥujurāt [49]: 12)
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (QS. al-Ḥujurāt [49]: 13).
2.
Penjelasan
Pada ayat 10, Allah menegaskan bahwa walaupun
orang-orang mukmin itu berbeda-beda bangsa, etnis, bahasa, warna kulit dan adat
kebiasaannya serta stratifikasi sosialnya, namun
mereka adalah satu dalam persaudaraan Islam. Persaudaraan bisa diibaratkan
laksana ratusan atau bahkan ribuan lidi yang diikat menjadi satu, sehingga
tidak mudah untuk dipatahkan. Oleh karena itu, sesama orang mukmin harus
mempunyai jiwa persaudaraan atau persatuan yang kokoh sebagaimana telah
diajarkan dalam agama Islam.
Persaudaraan memang merupakan kunci sukses dalam
menciptakan dan melestarikan tata kehidupan masyarakat yang baik, terhormat dan
bermartabat. Sejarah telah mencatat manfaat positif dari persaudaraan tersebut,
sebagaimana dicontohkan oleh Rasūlullāh yang telah mempersatukan kaum
Muhājirı̄n (dari Makkah) dengan kaum Anṣār (penduduk asli Madinah). Abū Bakar aṣ-Ṣiddiq
beliau persaudarakan dengan Hariṡah bin Zaid, ‘Umar bin Khaṭṭab beliau
persaudarakan dengan‘Itbah bin Mālik, demikian juga dengan sahabat yang lain.
Oleh karena itu tepatlah suatu pepatah mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai
kita runtuh”. Begitu juga dengan suatu gambaran atau iktibar yang menerangkan
bahwa seorang muslim itu ibarat sebatang lidi maka ia akan mudah dipatahkan.
Berbeda bilamana ia bersatu dengan muslim lainnya diikat dalam satu ikatan
laksana seratus atau ribuan lidi, maka sangat berat untuk dipatahkannya.
Persaudaraan yang kokoh diantara kaum muslimin dibutuhkan akhlak atau moral
yang melandasi sikap dan perilaku mereka.
Sebab turun (asbābun-nuzūl) QS. al-Ḥujurāt ayat 11
sebagaimana diriwayatkan di dalam kitab Sunan yang empat (Sunan Abū Dāwud,
Sunan at-Tirmiżı̄, Sunan an-Nasā’ı̄ dan Sunan Ibnu Mājah), yang bersumber dari
Abū Jubair aḍ-Ḍaḥḥak. Menurut Imām at-Tirmiżı̄ hadis ini adalah hadis hasan. “Mengemukakan
bahwa seorang laki-laki mempunyai dua atau tiga nama. Orang itu sering
dipanggil dengan panggilan tertentu yang tidak ia senangi. Ayat ini (QS. al-Ḥujurāt:
11) turun sebagai larangan menggelari orang dengan nama-nama yang tidak
menyenangkan”.
Diriwayatkan oleh al-Ḥākim dan lain-lain, yang
bersumber dari Abū Jubair aḍ-Ḍaḥḥak: “Mengemukakan nama-nama gelar di zaman
jahiliyah sangat banyak. Ketika Nabi memanggil seseorang dengan gelarnya, ada
orang yang memberitahukan kepada beliau bahwa gelar itu tidak disukainya. Maka
turunlah ayat ini (QS. al-Ḥujurāt: 11) yang melarang orang memanggil orang
dengan gelar yang tidak disukainya”.
Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Abū
Jubair aḍ-Ḍaḥḥak: “Mengemukakan bahwa ayat ini (QS. al-Ḥujurāt: 11) turun
berkenaan dengan Banı̄ Salamah. Nabi tiba di Madinah pada saat orang biasanya
mempunyai dua atau tiga nama. Pada suatu saat Rasūlullāh memanggil seseorang
dengan salah satu namanya, tetapi ada orang yang berkata: “Ya Rasūlullāh!”
Sesungguhnya ia marah dengan panggilan itu.” Ayat (dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan
gelar-gelar yang buruk), QS. al-Ḥujurāt: 11 turun sebagai larangan memanggil
orang dengan sebutan yang tidak disukainya.
Kandungan ayat 11 merupakan konsekuensi logis dari
ayat 10, yaitu Allah menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh saling
mengolok-olokkan, karena perilaku tersebut dapat menimbulkan kemarahan orang lain,
atau orang merasa dihina sehingga akan menimbulkan pertengkaran dan
perkelahian.
Orang mukmin tidak boleh saling mengolok-olokkan,
karena boleh jadi orang yang diperolok-olokkan itu lebih baik daripada yang
memperolok-olokkan. Baik berupa ejekan, perkataan, sindiran ataupun kelakar
yang bersifat merendahkan diri. Oleh karenanya Allah melarang olok-olok itu
agar terbina persaudaraan, kesatuan dan persatuan di kalangan orang mukmin.
Allah subḥānahū wa taʻālā juga melarang orang-orang
mukmin untuk mencela dirinya sendiri, yang sebagian mufassir mengartikan
melarang mencela saudara mukmin lainnya. Karena orang mukmin itu ibarat satu
tubuh, sehingga kalau ia mukmin lainnya berarti ia mencela dirinya sendiri.
Dalam ayat ini pula Allah melarang orang mukmin memanggil orang mukmin lainnya
dengan panggilan yang buruk, karena panggilan yang buruk tidak disukai oleh
orang yang dipanggil. Panggilan yang buruk itu sebutan yang tidak disukai oleh
orang yang dipanggil, seperti memanggil orang yang beriman dengan panggilan
“hai fasik”. Dan pada bagian akhir ayat ini Allah subḥānahū wa taʻālā
memperingatkan orang yang melakukan kesalahan untuk sesegera mungkin bertaubat,
dengan cara tidak melakukan ulang kesalahan yang telah dilakukan, karena orang
yang tidak mau bertaubat termasuk orang yang zalim. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Sebab turunnya QS. al-Ḥujurāt ayat 12, diriwayatkan
Ibnu al-Munżir yang bersumber dari Ibnu Juraij: “Dia mengemukakan bahwa ayat
ini (QS. al-Ḥujurāt: 12) turun berkenaan
dengan Salmān al-Fārisi yang bila selesai makan, suka terus tidur dan
mendengkur. Pada waktu ada orang yang menggunjingkan perbuatannya. Maka
turunlah ayat ini (QS. al-Ḥujurāt: 12) yang melarang seseorang mengumpat dan
menceritakan keaiban orang lain”.
Dalam ayat 12 ini, masih dalam kerangka membina
persaudaraan orang-orang mukmin, Allah subḥānahū wa taʻālā melarang orang-orang
yang beriman cepat berprasangka. Sebab sebagian dari prasangka adalah dosa yang
harus dijauhi. Disamping itu juga melarang untuk mencari-cari kesalahan orang
lain menggunjing atau gı̄bah. Oleh karena itu Allah memerintahkan orang beriman
untuk senantiasa bertaqwa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi
wasallam:
Dari Abū Hurairah radiyallāhu ‘anhu
diterangkan bahwa Rasūlullāh bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Allah di
manapun kamu berada. Dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik untuk
menghapuskannya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik”(HR. at-Tirmiżı̄).
Sebab turunnya QS. al-Ḥujurāt: 13, diriwayatkan oleh Ibnu Abı̄ Ḥātim al-Ḥākim yang
bersumber dari Ibnu Abı̄ Mulaikah, dia mengemukakan: “Ketika Fatḥu Makkah
(penaklukan kota Makkah), Bilāl naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan ażan.
Beberapa orang berkata: “Apakah pantas budak hitam ini ażan di atas Ka’bah?”,
maka berkatalah yang lainnya: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pastilah Dia akan menggantikannya”. Ayat ini (QS. al-Ḥujurāt
: 13) turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang
paling mulia adalah yang paling bertaqwa.
Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dalam Kitab Mubhamat-nya
(yang ditulis tangan oleh Ibnu Basykuwai), yang bersumber dari Abū Bakr bin
Abı̄ Dāwud di dalam tafsirnya, mengemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan
dengan Abū Hind yang dikawinkan oleh Rasūlullāh kepada seorang wanita Banı̄
Bayaḍah. Banı̄ Bayaḍah berkata: “Wahai Rasūlullāh, pantaskah kalau kami
mengawinkan putri-putri kami kepada bekas-bekas budak kami?” Ayat ini (QS. al-Ḥujurāt
:13) turun sebagai penjelasan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan antara
bekas budak dan orang merdeka.
QS. al-Ḥujurāt ayat 13 ini menegaskan kepada semua
manusia bahwa ia diciptakan Allah subḥānahū wa taʻālā dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan. Allah maha Kuasa dan Pencipta yang baik. Menciptakan
manusia secara pluralistik, berbangsa, bersuku yang bermacam-macam dengan
keanekaragaman dan kemajemukan manusia bukan untuk berpecah belah, saling
merasa paling benar, melainkan untuk saling mengenal, bersilaturrahmi,
berkomunikasi saling memberi dan menerima.
Hal penting yang harus dicatat manusia akan adanya
perintah agama. Maka seorang mukmin harus mengikuti perintah-Nya dengan penuh
kesadaran dan mengakui bahwa semua manusia disisi Allah adalah sama, yang
membedakan derajat mereka adalah Ketakwaannya kepada Allah. Orang yang paling
mulia disisi Allah adalah oang yang paling taqwa kepada-Nya. Manusia harus
senantiasa membina dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
E. Hadis
Dari Ibnu Abbas, dan dia merafa’kannya
kepada Nabi saw beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak
menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak
menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar” (HR. Aḥmad).
