BETAPA BESAR SYUKURKU KEPADA-MU
BAB X
BETAPA
BESAR SYUKURKU KEPADA-MU
A. QS.
az-Zukhruf [43]:
9-13
1.
Terjemah
ayat
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada
mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan
menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. az- Zukhruf [43]: 9).
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat
menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu
mendapat petunjuk (QS. az-Zukhruf
[43]:10).
Dan yang menurunkan air dari langit
menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang
mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur) (QS. az-Zukhruf [43]: 11).
Dan yang menciptakan semua yang
berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu
tunggangi (QS.az-Zukhruf
[43]: 12).
Supaya kamu duduk di atas punggungnya
kemudian kamu ingat ni’mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan
supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi
kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya” (QS. az- Zukhruf [43]: 13).
2.
Penjelasan
QS. al-Isra’ [17]: 23 – 24
Semua sumber daya alam yang ada merupakan rezeki dan
nikmat dari Allah yang tak terhitung nilainya dan dikaruniakan Allah kepada
manusia, oleh karena itu manusia seharusnya pandai-pandai mensyukurinya dan
salah satu bentuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan beribadah kepada-Nya,
memelihara Alam dan tidak merusaknya.
Pada ayat 9 Allah menerangkan kepada nabi bahwa jika
orang-orang musyrik ditanya, siapakah yang
menjadikan langit dan bumi? Mereka pasti akan menjawab: Allah lah yang
menciptakan langit dan bumi, mereka sebenarnya mengakui Allah, tetapi karena
sombong, hasud dan dengki mereka tetap musyrik kepada Allah.
Kalau ayat 9 Allah menyebut secara umum
penciptaan-Nya yaitu langit dan bumi, pada ayat 10 Allah merinci sebagian dari
kehebatan ciptaan-Nya itu sambil mengarahkan pembicaraan secara langsung kepada
manusia, khususnya mereka yang mengingkari-Nya. Firman Allah: Dia lah yang
menciptakan bumi itu dan menjadikan untuk kamu, bumi sebagai tempat yang mantap
dan nyaman, tidak goyang atau oleng, agar kamu dapat tinggal menetap, dengan
aneka kemudahan yang dapat mengantar kepada kenyamanan hidup kamu, dan Dia
menjadikan untuk kamu yakni membuat dan menganugerahkan kamu potensi untuk
membuat jalan-jalan di bumi ini supaya kamu mengetahui arah dan mendapat
petunjuk menuju arah yang kamu kehendaki, baik untuk kepentingan hidup,
ekonomi, dan perdagangan. Sejalan dengan ayat ini Allah berϐirman dalam surah
an-Nabā’ ayat 6 dan al-Anbiyā ‘ ayat 31 sebagai berikut:
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu
sebagai hamparan? (QS. an- Nabā’
[78] : 6)
Kata mahd atau mihād pada mulanya berarti sesuatu
yang dihamparkan. Penghamparan bumi tidaklah bertentangan dengan sifatnya yang
bulat lonjong. Apalagi di sini yang ingin ditekankan bukan tentang
penciptaannya, tetapi manfaat yang dapat ditarik darinya. Di sisi lain, ke
manapun kaki melangkah atau mata memandang, seseorang akan mendapati bumi ini
datar atau mudah untuk dilalui.
Dengan demikian apa yang tersurat ayat di atas dapat
digunakan sebagai bukti tentang keesaan dan kekuasaan Allah dalam melimpahkan
nikmat kepada manusia.
Pada ayat 11 Allah subḥānahū wa taʻālā Yang Maha
Perkasa dan Maha Mengetahui itu yang menurunkan secara berangsur dan sedikit
demi sedikit air hujan dari langit menurut kadar yang diperlukan untuk minuman
kamu dan binatang serta pengairan tumbuh-tumbuhan, lalu Kami hidupkan dengannya
yakni dengan air itu negeri (daerah) tandus yang mati yang sebelumnya tidak
ditumbuhi pepohonan, seperti itulah Allah kuasa menghidupkan sesuatu yang mati
dan mengeluarkan kamu dari dalam kubur dengan amat mudah.
Air hujan terjadi karena tidak samanya tekanan udara
di permukaan bumi akibat adanya gunung-gunung. Hal ini menyebabkan aliran udara
berupa tiupan angin membawa kabut gas
(awan) ke tempat-tempat yang tekanan udaranya lebih rendah. Kumpulan awan akan
terus memadat dan suatu saat mengalami kondensasi (pengembunan) dan akhirnya
jika mencapai titik jenuh maka menjadi apa yang disebut dengan hujan. Turunnya
hujan ke permukaan bumi berlangsung jutaan tahun dan terbentuklah
sungai-sungai, danau-danau dan lautan yang merupakan reservoir air. Disamping
unsur-unsur gas yang mencair menjadi air hujan, terkikis atau terlarut pula
garam-garam dan mineral bersama air hujan, dan akhirnya terkumpul di lautan.
Gas yang terlarut dalam air di laut antara lain CH4, NH3, CO2, dan HCN serta
ditambah dengan garam-garam tanah dan mineral yang konsentrasinya makin
meningkat dalam air laut.
Air laut yang mengandung bahan-bahan kimia dalam
konsentrasi tinggi itu terjadi reaksi-reaksi kimia membentuk berbagai senyawa
antara lain, karbonat, asam amino, asam lemak, gliserin, basa nitrogen (purin
dan pirimidin) adenosine posfat polisakaraida, lemak dan asam nukleat. Air yang
mengandung senyawa tersebut ternyata dibutuhkan oleh tumbuhan. Pembentukan
senyawa-senyawa tersebut berlangsung sesuai dengan hukum alam atau sunnatullah.
Pada ayat 12 dan 13 masih merupakan lanjutan dari
bukti-bukti kekuasaan Allah. Pada ayat tersebut diuraikan penciptaan segala
macam pasangan. Ayat ini seolah-olah menyatakan: Allah juga yang menciptakan
makhluk semuanya berpasang-pasangan. Tidak ada ciptaan-Nya yang tidak
berpasang-pasangan. Itu karena semua terdapat kekurangan dan hanya dapat
mencapai kesempurnaan jika menemukan pasangannya. Hanya Allah sang Pencipta itu
Yang Maha Esa tanpa pasangan. Allah menundukkan untuk kamu semua kapal di
lautan dan semua binatang ternak yang kamu kendarai dan nikmati di daratan. Itu
dilakukan-Nya supaya kamu selalu dapat mengendarai dan duduk di atas
punggung-punggungnya dengan tenang dan mantap, lalu kamu mengingat dengan
pikiran sehat dan hati nurani kamu atas nikmat Tuhan, zat yang menundukan
kendaraan itu dan Pemelihara kamu, apabila kamu telah mantap berada diatasnya;
dan supaya kamu mengucapkan dengan lidah kamu – sehingga bergabung hati,
pikiran dan lidah memuji kepada-Nya, sebagai pengakuan atas kelemahan kamu
mengendalikan dan menguasainya, dengan menyatakan: Maha Suci Tuhan Pemelihara
kami yang telah menundukkan bagi kami semua ini, padahal kami sebelumnya yakni
sebelum Allah menganugerahkan potensi kepada kami untuk menundukkannya bukanlah
orang-orang mampu menguasai-Nya, dan sesungguhnya kami kepada Tuhan kami Yang
Maha Esa saja tidak kepada selain-Nya kami adalah orang-orang yang sudah pasti
akan kembali kepada Allah sang Pencipta. Dan setelah kematian kami semua akan
dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan semua amal kami.
Yang dimaksud dengan “berpasangan” bukan saja jenis
kelamin makhluk hidup, tetapi dapat mencakup benda-benda tak bernyawa. Dari
segi bahasa kata “azwāj” adalah bentuk jamak dari kata “zauj” yakni pasangan. Kata ini menurut pakar bahasa
al-Qur’an, ar-Rāgib al-Aṣfaḥānı̄ digunakan untuk masing-masing dari dua hal
yang berdampingan atau bersamaan, baik jantan maupun betina, binatang (termasuk
binatang berakal yakni manusia) dan juga digunakan menunjuk kedua yang
berpasangan itu. Dia juga digunakan menunjuk hal yang sama bagi selain binatang
seperti alas kaki. Selanjutnya ar-Rāgib al-Aṣfaḥānı̄ menegaskan bahwa
keberpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolak
belakang. Ayat-ayat al-Qur’an pun menggunakan kata tersebut dalam pengertian
umum, bukan hanya untuk makhluk hidup. Allah berfirman:
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan
berpasang-pasangan supaya kamu mengingat (kebesaran Allah)” (QS. aż-Zǚāriyāt (51): 49).
Dari sini terdapat malam dan siang, ada senang dan
susah, ada atas dan bawah dan demikian seterusnya. Semua – selama dia makhluk –
memiliki pasangan. Hanya sang Khālik, Allah subḥānahū wa taʻālā yang tidak ada
pasangan-Nya, tidak ada pula sama-Nya. Dari segi ilmiah terbukti bahwa listrik
pun berpasangan, ada arus positif dan ada juga arus negatif. Demikian juga
atom, yang tadinya diduga merupakan wujud yang terkecil dan tidak dapat
terbagi, ternyata ia pun berpasangan, yakni terdiri dari elektron dan proton.
Yang dimaksud dengan menyebut-nyebut atau mengingat
nikmat Tuhanmu apabila kamu yang menumpang telah meminta berada diatasnya, baik
kapal atau binatang itu adalah nikmat-nikmat-Nya yang mengantar mereka melalui
kendaraan itu mencapai arah yang dituju, atau mengangkut barang-barang mereka
dan lain-lain. Penyebut nikmat-nikmat itu, mengundang ucapan al-Ḥamdulillāh dan
penggunanya sesuai petunjuk Allah. Karena itu saat mengendarai, ayat tersebut
mengajarkan ucapan penyucian Allah dari segala kekurangan yakni dengan
bertasbih.
Demikian ayat di atas mengajarkan penggabungan
antara tasbih dan tahmid. Kata sakhkhara berarti menundukkan. Penundukkan
binatang terlaksana dengan penciptaan Allah dalam kondisi yang menjadikannya
dapat dijinakkan dan dilatih serta memahami maksud manusia ketika menggunakannya.
Sedang penundukan laut, antara lain dengan menciptakan hukum-hukum alam yang
berkaitan
dengan laut, dan
sungai, angin serta pengilhaman manusia untuk memilih bahan-bahan dan cara-cara
pembuatan kapal.
Ucapan yang diajarkan ayat di atas merupakan salah
satu bukti betapa Islam mengajarkan perlunya menyadari kedudukan manusia
sebagai khalifah di bumi. Seorang khalifah dituntut mengelola bumi dengan
segala isinya dengan cara memperlakukannya sebagai “sahabat”, bukan penakluk.
Manusia seperti pengakuan yang diajarkan ayat di atas pada hakikatnya tidak
memiliki kemampuan untuk menundukkan bumi dan segala isinya. Yang menundukkan
adalah Allah subḥānahū wa taʻālā untuk kepentingan manusia. Dari sini, manusia
harus menyadari kelemahannya, dan menyadari pula bahwa kalau bukan karena
penundukkan Allah yang maha perkasa itu, manusia tidak akan mampu mengendalikan
binatang yang ditungganginya. Dengan demikian, ide penaklukan manusia terhadap
alam tidak dikenal dengan ajaran Islam. Ia hanya dikenal oleh mitos Yunani kuno
yang beranggapan bahwa alam merupakan dewa-dewa yang sering kali menghalangi
manusia meraih manfaat, atau berusaha menimpakan bencana kepada mereka. Dan
karena itu alam adalah musuh yang harus ditaklukkan. Pandangan tersebut secara
sadar atau tidak, dianut oleh sementara pemikir di Barat, bahkan tersurat dalam
Perjanjian Lama.
Dengan ditunjukkannya ciptaan Allah yang disebutkan
dalam ayat-ayat tersebut, hendaknya manusia mensyukuri nikmat Allah yang tidak
dapat dihitung banyaknya. Seandainya air laut dijadikan tinta untuk menulis nikmat
Allah sampai laut itu kering, nikmat Allah belum tertulis semuanya.
B. QS.
1.
Terjemah
ayat
Sesungguhnya yang kamu sembah selain
Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa
yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka
mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya
kepada-Nya kamu akan dikembalikan (QS.
al-‘Ankabūt [29]: 17)
2.
Penjelasan
Allah telah menegaskan bahwa sesembahan selain Allah
itu sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia itu sendiri, tetapi
meraka berdusta dengan menganggapnya itulah tuhan yang sebenarnya. Lebih dari
itu ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu menurut kepercayaan
mereka sanggup memberi manfaat (keuntungan) kepada mereka. Kemudian Ibrahim
‘alaihissalam mencela dan mengecam mereka bahwa patung-patung itu sedikitpun
tidak sanggup memberi rezeki kepada mereka. Sebab rezeki itu adalah wewenang
mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah saja. Karena itu dianjurkan kepada mereka
supaya memohon rezeki dan mata pencaharian (penghasilan) itu hanya kepada Allah
saja dan mensyukuri-nya jika yang diminta itu telah diperkenankan-Nya. Allah
sajalah yang mendatangkan rezeki bagi manusia serta memberi nikmat para
hamba-Nya. Sesudah itu kepada-Nyalah manusia akan dikembalikan, dimana manusia
dianjurkan untuk mencari keridoan-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya.
Ayat ini ditutup dengan lafal ”Kepada-Nyalah kamu dikembalikan” artinya
bersiap-siaplah kamu menemui Tuhan itu dengan beribadah dan bersyukur. Firman
Allah QS. An-Naḥl ayat 114:
Maka makanlah dari apa yang Allah telah
berikan kepadamu makanan yang halal lagi baik, dan bersyukurlah kamu akan
nikmat Allah, jika kamu benar-benar beribadah hanya kepada-Nya (QS. An-Naḥl [16]: 114).
Berdasarkan ayat tersebut di atas bahwa bersyukur
itu adalah dengan cara memakan makanan yang halal dan baik yang tidak
berlebihan sesuai ketentuan yang ditentukan Allah subḥānahū wa taʻālā .
C. Hadis
Dari Abū Hurairah dari Nabi ṣallallāhu
‹alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak dianggap bersyukur kepada Allah
orang yang tidak bersyukur kepada manusia" (HR. Abū Dāwud).
Dari Abū Hurairah berkata: Rasūlullāh ṣallallāhu
‹alaihi wasallam bersabda: "Pandanglah orang yang berada dibawah kalian,
jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak
mengkufuri nikmat Allah".
(Riwayat Muslim).
Dalam hadis ini, Rasūlullāh memperingatkan , bahwa
manusia harus bersikap syukur terhadap nikmat Allah yang dianugerahkan
kepadanya. Dan resep yang dijelaskan Rasūlullāh adalah manusia agar memandang
ke bawah atau lebih rendah dalam hal keduniaan seperti; kedudukan, pangkat, dan
harta kekayaan karena hal tersebut akan mendorong manusia untuk lebih bersyukur.
Dan Manusia harus sadar bahwa, kedudukan atau pangkat serta harta kekayaan yang
lebih tinggi yang dimiliki orang lain itu merupakan ujian, sehingga manusia
lebih selamat memandang ke bawah dalam hal tersebut. sehingga terhindar dari
sikap mengandai-andai yang menimbulkan manusia akan jauh dari syukur nikmat.
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang berterimakasih atas pemberian
orang lain karena Allah, maka pada hakekatnya orang tersebut telah bersyukur
kepada Allah subḥānahū wa taʻālā sebagaimana hadis yang berbunyi:
Sesungguhnya manusia yang paling banyak
bersyukur kepada Allah yang maha mulia lagi maha tinggi, mereka yang lebih
banyak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia (HR. Aḥmad).
Kita perlu melihat ke atas dalam upaya memberi
motivasi (dorongan) diri berusaha, sepanjang dalam batas yang dibenarkan
syari’at Islam. Larangan melihat orang yang kedudukannya yang lebih tinggi
semata-mata untuk mencegah timbulnya rasa iri hati dan sifat-sifat tidak
terpuji lainnya yang akhirnya tidak mensyukuri nikmat Allah. Dalam hadis
tersebut kita juga dianjurkan bersikap qanā‘ah yaitu menerima apa adanya atas
pemberian Allah atau merasa puas dan rela atas bagiannya setelah berusaha.
Orang yang mempunyai sifat qanā‘ah tentunya tidak akan mempunyai sikap tamak
terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain.
Sifat qanā‘ah mengandung sifat positif di antaranya
adalah menerima apa yang terjadi, realistik (nyata), dinamis atau bersemangat,
tenang, stabil jiwanya, optimis, dermawan, tawakkal, dan selalu bersyukur atas nikmat
Allah. Adapun sikap ambisius yang berlebihan akan menanamkan sifat-sifat negatif,
antara lain selalu berangan-angan, tamak, pemburu duniawi semata tanpa
perhitungan, pemborosan, dan ingkar atau kufur nikmat.
Hadis di atas juga memberikan tuntunan kepada kita
untuk mengambil langkah pencegahan yang disampaikan oleh Rasūlullāh agar
ummatnya tidak menjadi rakus, tamak, dan diperbudak duniawi sehingga jiwanya terbelenggu
oleh duniawi, akibatnya tidak mau berbuat baik terhadap sesama serta lupa akan
pemberian dari Allah subḥānahū wa taʻālā, padahal apapun yang telah diterima
oleh manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggunganjawab atas pemberian
tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi
wasallam sebagai berikut:
Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, ia
berkata : Rasūlullāh bersabda kepada Abū Bakar dan ‘Umar: “Demi zat yang jiwaku
ada di tangan (kekuasaan)-Nya niscaya akan ditanya tentang nikmat ini pada hari
kiamat. Kamu dikeluarkan dari rumah-rumahmu dalam keadaan lapar, kemudian kamu
tidak akan kembali sehingga kamu mendapatkan kenikmatan ini” (HR. Muslim).
Kemudian agar kita mampu menjadi orang yang pandai
bersyukur dan kelak bisa mempertangungjawabkan pada hari kiamat terhadap apa
yang telah diberikan kepada kita, Allah subḥānahū wa taʻālā memberikan tuntunan
agar kita banyak berżikir dan berdoa.
