BETAPA SEMANGATNYA AKU BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN


BAB 
VII

BETAPA SEMANGATNYA AKU BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

 

A.    QS. al-Baqarah [2]: 148

1.        Terjemah ayat

Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. al-Baqarah [2] :148).

2.        Penjelasan

Secara umum ayat ini dapat dipahami sebagai dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentunya untuk melihat sebuah perbuatan tersebut baik atau tidak, harus merujuk sesuai dengan aturan Allah subḥānahū wa taʻālā yaitu al-Qur’an dan sesuai dengan hadis yang ṣaḥı̄h. Untuk menelisik lebih jauh kandungan ayat ini, mari kita ikuti uraian berikut.

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa bagi setiap pemeluk suatu agama mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri. Tentunya kiblat itulah yang menjadi kecenderungan mereka untuk menghadap sesuai dengan keyakinan mereka. Dan Kaum muslimin mempunyai kiblat yang ditetapkan langsung oleh Allah yaitu Ka’bah.

Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan Umat Yahudi berkiblat ke Baitul-Maqdīs, dan umat yang lain melalui Nabi dan Rasulnya untuk menghadap ke arah tertentu. Namun, dalam ayat ini Allah memerintah untuk mengarah ke Kaʻbah dan berlaku untuk semua. Perintah ini adalah membatalkan perintah Allah sebelumnya termasuk untuk Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam yang sebelumnya pada saat salat menghadap selain ke Kaʻbah. Hal yang penting dalam pengarahan kiblat ini adalah menghadapkan hati langsung kepada Allah subḥānahū wa taʻālā.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan umat Islam untuk senantisa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul-khairāt). Menghadap ke Kiblat (Kaʻbah) bukanlah tujuan tapi harus dipahami bahwa umat Islam adalah satu. Dan kandungan ayat ini yang dapat kita ambil maknanya adalah hendaknya kita giat bekerja serta berlomba dalam segala bentuk kebaikan baik salat,bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan positif yang lain. Kita harus berkompetisi dalam melakukan hal-hal yang positif. Dampak positif yang dihasilkan dari kompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinamis, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa saatnya nanti, Allah subḥānahū wa taʻālā akan mengumpulkan semua manusia, di manapun dan dari arah manapun mereka berada. Tidak ada seorang pun yang luput dan lepas dari pengawasan Allah subḥānahū wa taʻālā, yaitu pada sasat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka akan diperlihatkan semua amal baik atau buruk yang pernah dilakukan pada saat hidup di dunia dan semua akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.

 

B.     QS. Fāṭir [35]: 32

1.        Terjemah ayat

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar (QS. Fāṭir [35]: 32).

2.        Penjelasan

Secara global ayat ini menerangkan bahwa Allah subḥānahū wa taʻālā telah menurunkan al-Qur’an kepada Rasūlullāh untuk digunakan sebagai pedoman hidup bagi umatnya. Namun, dalam realita kehidupan di antara umat Islam ada berbagai macam sikap dalam mengambil al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sikap-sikap mereka ini di antaranya disebutkan dalam al-Qur’an Surah Fāṭir ayat 32 berikut ini.

a.         Kelompok pertama adalah mereka yang menzalimi dirinya sendiri, yaitu orang yang meninggalkan perintah-perintah Allah dan mengerjakan berbagai perkara yang diharamkan.

b.        Kelompok kedua mereka bersikap pertengahan, yaitu mereka di samping melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjahui larangan-larangan. Namun, terkadang mereka ini meninggalkan perkara-perkara yang disunahkan dan melakukan perkara-perkara yang dimakruhkan.

c.         Kelompok ketiga yaitu mereka yang bersikap segera melakukan kebaikan-kebaikan dengan izin Allah. Golongan ini senantiasa mengerjakan perbuatan yang diwajibkan dan disunahkan serta menjahui perkara yang diharamkan dan dimakruhkan.

Ar-Razı̄ menafsirkan bahwa ẓālimun linafsih adalah orang yang lebih banyak kesalahannya, sedangkan muqtaṣid (tengah) adalah orang yang seimbang antara kesalahan dan kebaikannya. Adapun sābiqun bil-khairāt adalah orang yang lebih banyak kebaikannya.

 

C.    QS. an-Naḥl [16]: 97

1.        Terjemah Ayat

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. an-Naḥl [16]: 97).

2.        Penjelasan

Pada ayat di atas Allah menjelaskan akan memberikan kehidupan yang sejahtera kepada siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, apabila mereka mau beriman dan beramal saleh. Dan balasan Allah bernilai lebih tinggi daripada yang dikerjakan.

Ada beberapa pendapat ahli tafsir dalam memahami ungkapan antaranya adalah:

a.         Menurut Ibnu Kaṡı̄r bahwa yang disebut dengan ḥayātan toyyiban adalah ketentraman jiwa.

b.        Ibnu Abbas seorang sahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir dan bahkan pernah didoakan nabi sebagai seorang ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ḥayātan toyyiban adalah hidup sejahtera dan bahagia dengan rezeki yang halal dan baik (bermutu gizinya).

c.         Adapun menurut ‘Alı̄ bin Abı̄ Ṭālib yang dinamakan ḥayātan toyyiban adalah kehidupan yang disertai qanā‘ah (menerima dengan suka hati) terhadap pemberian Allah.

Dalam ayat lain Allah berϐirman:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Αli ‘Imrān [3]: 92).

Ayat di atas secara ringkas dapat dijelaskan bahwa perbuatan seseorang dapat dikatakan baik dengan diukur bagaimana tatkala ia menaϐkahkan hartanya tersebut. Apabila ia telah mampu mendermakan sebagian harta yang dicintainya atau barang yang ia sendiri masih menyukainya berarti ia akan memperoleh kebaikan yang sempurna dihadapan Allah. Hal ini tentunya disertai niat semata-mata karena Allah.

 

D.    Hadis

1.        Terjemah Hadis

Dari Jābir bin ‘Abdullāh, ia berkata, “Rasūlullāh berkhutbah di hadapan kami, beliau mengatakan: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian mati, bersegeralah beramal shalih sebelum kalian sibuk, dan sambunglah antara kalian dengan Rabb kalian dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya, banyak sedekah dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Niscaya kalian akan diberi rezeki, ditolong dan dicukupi. Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian salat Jum’at di tempat berdiriku ini, di hariku ini, di bulanku ini dan di tahunku ini hingga hari kiamat. Barangsiapa meninggalkannya di waktu hidupku atau setelahku, dan dia memiliki Imām adil atau bejat, kemudian meremehkan atau menolaknya, maka Allah tidak akan menyatukannya dan urusannya tidak akan diberkahi. Ketahuilah, tidak ada salat, tidak ada zakat, tidak ada haji, tidak ada puasa, dan tidak ada kebaikan baginya hingga ia bertaubat. Maka barangsiapa bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Ketahuilah, tidak boleh seorang perempuan mengImami laki-laki, orang badui mengimami seorang muhajir dan tidak boleh orang fajir mengimami seorang mukmin, kecuali jika ia memaksanya dengan kekuasaan yang ditakuti pedang dan cambuknya (HR. Ibnu Mājah).

2.        Penjelasan Hadis

Hadis di atas memerintahkan kepada orang-orang Islam agar segera bertaubat sebelum meninggal. Karena pada hakekatnya yang mengetahui tentang umur manusia tidak ada yang lain kecuali Allah subḥānahū wa taʻālā. Umur tidak mengenal tua ataupun muda, memang apabila telah tiba maka ia tidak dapat mengerjakan atau ditunda walau sedetik. Kemudian pada lanjutan hadis, agar setiap muslim segera berusaha beramal saleh sebelum sibuk juga rajin menyambung silaturahmi dan memperbanyak sedekah baik secara terang-terangan maupun sembunyi. Apabila demikian dapat dilaksanakan oleh setiap muslim pasti janji Allah akan datang yaitu memperoleh rezeki dengan jalan yang mudah dan dapat pertolongannya serta diperbaiki taraf kehidupannya.

Setiap muslim tentunya tidak akan mau mengerjakan perbuatan yang dilarang Allah subḥānahū wa taʻālā. Namun karena sangat kuatnya godaan syaitan mereka dapat terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Sebagai orang yang beriman, tentunya segera menyadari kesalahannya dan menyesali atas perbuatan tersebut. Kemudian segera minta ampun kepada Allah subḥānahū wa taʻālā. Seorang muslim yang telah terlanjur mengerjakan dosa besar, tetapi segera insaf dan sadar serta menyesali atas perbuatannya kemudian diikuti dengan taubat, Allah akan mengampuni dosanya. Taubat yang dimaksud adalah Taubatan Naṣūha, yaitu taubat yang sebenarnya.

Subscribe to receive free email updates: